𝗧𝗲𝗿𝗼𝗯𝗼𝘀𝗻𝘂𝘀𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮.𝗖𝗼𝗺-𝗕𝗼𝗺𝗯𝗮𝗻𝗮 Setiap hari pasar tiba, pemandangan yang sama terus terulang di sudut-sudut pasar rakyat di Kabupaten Bombana. Di antara deretan kios permanen yang banyak kosong, para pedagang kaki lima tetap setia menggelar dagangan mereka di bawah tenda darurat atau sariga (lapak buatan sendiri).
Bukan tanpa alasan mereka memilih bertahan di tempat yang rawan hujan, panas, dan ketidakpastian. Sebab, bagi mereka, itulah satu-satunya jalan untuk mengais rezeki.
Salah satu pedagang yang paling vokal menyuarakan keluhan ini adalah Rosdiana, atau yang akrab disapa Bunda Ana. Ia telah berjualan selama bertahun-tahun dan menyaksikan sendiri bagaimana wajah pasar rakyat Bombana berubah secara fisik, tapi tidak menyentuh akar persoalan.
“Semua pasar di Bombana dibangun memang bagus, los-losnya rapi, tapi kebanyakan kosong. Sementara kami yang tidak punya los harus bangun sendiri tempat jualan itupun lokasinya kami beli. Kami membangun sariga agar bisa berjualan dengan nyaman, tapi tetap dianggap mengganggu,” ungkap Bunda Ana dengan nada kecewa.(12/6/25)
Bunda Ana menyoroti satu ironi besar dalam pembangunan pasar rakyat di Bombana. Meski proyek pasar kerap disebut sebagai upaya pemerintah untuk meningkatkan kenyamanan masyarakat, kenyataan di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Menurutnya, hanya para kontraktor yang benar-benar “merasa nyaman” dengan proyek-proyek ini.
“Pemerintah selalu bilang ini demi kenyamanan masyarakat. Tapi kenyamanan itu untuk siapa? Yang nyaman itu kontraktornya, bukan kami penjual. Malah kami harus beli tempat, karena banyak orang yang mengklaim lokasi itu milik mereka,” jelasnya lagi.
Masalah klaim kepemilikan los dan tempat jualan menjadi masalah serius. Banyak pedagang yang tidak kebagian los resmi terpaksa membeli tempat dari pihak-pihak yang mengklaim kepemilikan, meski secara hukum belum tentu sah. Situasi ini menciptakan ketidakpastian hukum dan rasa tidak aman bagi para pedagang.
Satu kritik tajam dari Bunda Ana ditujukan kepada Dinas Perindustrian,Perdagangan,dan Koperasi (Perindagkop) Bombana, yang dianggap tidak pernah benar-benar turun melihat langsung kondisi pasar.
“Harusnya Perindagkop turun langsung, lihat kami di lapangan. Jangan cuma duduk di belakang meja, mengatur dari jauh, tanpa tahu kondisi kami yang sebenarnya, apa bapak sadar banyak yang mengklaim lokasi kosong dalam pasar dan ngaku tempatnya terpaksa kami beli ” katanya tegas.
Keluhan lain yang terus berulang dari para pedagang adalah persoalan drainase pasar yang buruk. Hampir setiap musim hujan, genangan air dan lumpur menjadi penghalang utama aktivitas jual beli. Hal ini tidak hanya merugikan pedagang, tetapi juga mengurangi kenyamanan pembeli yang akhirnya memilih untuk tidak datang ke pasar.
“Hari ini saja, pasar Tampa Bulu Poleang Utara banjir. Lumpur di mana-mana. Siapa yang mau belanja kalau seperti ini?” tanya Bunda Ana.
Setiap kali pemilihan kepala daerah atau anggota dewan digelar, para pedagang seolah menjadi objek janji politik. Namun setelah kursi kekuasaan terisi, janji-janji itu pun lenyap tertiup angin.
“Siapapun bupatinya, siapapun anggota DPR nya, kami tetap begini. Janji tinggal janji, kami cuma bisa berharap, tapi selalu kecewa,” ujar Bunda Ana dengan lirih.
Meski kenyataan pahit terus mereka telan, para pedagang kaki lima di Bombana tetap menjaga semangat berdagang. Mereka hanya ingin diperlakukan sebagai bagian penting dari denyut ekonomi rakyat, bukan sebagai pelengkap penderita dalam pembangunan yang kerap tak berpihak.Bunda Ana dan rekan-rekan sesama pedagang kaki lima tidak menuntut banyak. Mereka hanya ingin tempat yang layak, sistem yang adil, dan pemerintah yang hadir secara nyata bukan hanya dalam bentuk baliho dan seremonial proyek.”Kami tidak minta mewah. Cukup adil dan manusiawi. Itu saja,” tutup Bunda Ana, sebelum kembali melayani pembeli di lapaknya yang sederhana.
Kisah para pedagang kaki lima di Kabupaten Bombana bukan hanya potret lokal, tapi cermin dari dinamika pembangunan di banyak wilayah Indonesia. Di balik proyek-proyek infrastruktur yang megah, ada suara-suara kecil yang terus menanti didengar. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan sejati adalah yang menyentuh hati dan kebutuhan rakyat, bukan hanya memenuhi target anggaran.
Pen/Editor:Andi Syam
Media:𝗧𝗲𝗿𝗼𝗯𝗼𝘀𝗻𝘂𝘀𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗖𝗼𝗺
Langsung ke konten




