𝗧𝗲𝗿𝗼𝗯𝗼𝘀𝗻𝘂𝘀𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮.𝗖𝗼𝗺-𝗕𝗼𝗺𝗯𝗮𝗻𝗮 Ribuan ikan nila dilaporkan mati setiap harinya di tambak ikan yang berada di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kabupaten Bombana. Fenomena ini menimbulkan keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan, khususnya para petani ikan, pendidik, dan pemerhati lingkungan.
Salah satu tokoh lokal yang turut angkat bicara adalah Sabri S,.Pd, seorang guru di SMKN 02 Bombana sekaligus petani milenial yang dikenal aktif mengedukasi masyarakat tentang pertanian dan kelestarian lingkungan.
Dalam keterangannya, Sabri menegaskan bahwa kematian ikan nila ini tidak disebabkan oleh pencemaran limbah atau keracunan seperti yang mungkin diduga banyak pihak.
“Kita harus lebih jeli. Ini bukan soal limbah atau bahan kimia berbahaya. Yang terjadi adalah kesalahan dasar dalam penempatan spesies ikan,” tegas Sabri saat diwawancarai di lokasi tambak.Senin (10/6/25)
Ia menjelaskan bahwa habitat ikan nila secara alami berbeda dengan ikan mujair, meskipun keduanya sering kali dianggap serupa. Ikan nila memerlukan kondisi lingkungan tertentu yang lebih stabil, termasuk kualitas air yang cukup oksigen dan perputaran air yang baik.
“Tambak di RTH ini tidak dilengkapi dengan sistem aerasi seperti kincir air. Padahal itu sangat penting. Ikan nila sangat bergantung pada kadar oksigen terlarut yang stabil. Tanpa itu, mereka cepat stres dan akhirnya mati massal,” lanjut Sabri.
Menurutnya, peristiwa ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi pengelolaan sumber daya air dan sistem budidaya perikanan di daerah. Ia mengajak semua pihak, baik pemerintah daerah, pelaku budidaya, hingga pelajar dan masyarakat umum untuk melihat kasus ini secara lebih edukatif dan strategis.
“Kita perlu membangun kesadaran ekosistem dalam praktik budidaya. Tidak semua jenis ikan bisa sembarangan ditempatkan di lingkungan buatan seperti tambak. Ada pertimbangan biologis dan ekologis yang harus dipenuhi,” jelasnya lagi.
Sabri juga menyarankan agar ke depan dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem tambak di area publik seperti RTH, agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tapi juga menjadi ruang edukasi yang berkelanjutan.
Sabri mengusulkan agar ke depan tambak-tambak yang dibangun di kawasan terbuka hijau tidak hanya difungsikan untuk budidaya, tetapi juga sebagai media pembelajaran interaktif.
“Bayangkan jika siswa, masyarakat umum, dan pelaku UMKM bisa belajar langsung di lapangan bagaimana mengelola tambak yang benar dari pemilihan spesies ikan, manajemen kualitas air, hingga teknologi pertanian modern seperti aerasi dan bioflok. Ini bisa jadi laboratorium hidup,” ujarnya penuh semangat.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan dunia pendidikan, dinas perikanan, dan komunitas lingkungan hidup agar pembangunan perikanan di Bombana tidak hanya produktif, tetapi juga berkelanjutan.
Kematian massal ikan nila di tambak RTH Bombana memang menyisakan duka bagi petani dan pemerhati lingkungan. Namun di balik itu, peristiwa ini membuka mata kita bahwa keberhasilan budidaya bukan hanya soal investasi, tetapi juga pemahaman yang tepat terhadap ekosistem. Saatnya Bombana bergerak dari praktik tradisional menuju sistem budidaya cerdas dan berwawasan lingkungan.
Pen/Editor:Andi Syam
Media:𝗧𝗲𝗿𝗼𝗯𝗼𝘀𝗻𝘂𝘀𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗖𝗼𝗺
Langsung ke konten
