๐ง๐ฒ๐ฟ๐ผ๐ฏ๐ผ๐๐ป๐๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ.๐๐ผ๐บ-๐๐ผ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ฎ Pendidikan tak cukup hanya menjawab tuntutan zaman. Ia harus mampu merangkul semua, mengakar pada nilai lokal, dan berpihak pada keberlanjutan. Inilah pesan utama yang mengemuka dalam Seminar Pendidikan Indonesia Moronene yang dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Bombana, Ahmad Yani, S.Pd.,M.Si. Kamis (8/5/2025) di Gedung Auditorium Tanduale, Kompleks Setda Kantor Bupati Bombana.
Mengusung tema “Adaptasi Pendidikan Ramah Lingkungan untuk Masa Depan Berkelanjutan”, seminar ini menjadi panggung strategis bagi seluruh elemen pendidikan untuk menyatukan visi membentuk sistem pembelajaran yang inklusif, ramah lingkungan, dan berakar pada kearifan lokal suku Moronene.
Dalam pidato pembukaannya, Ahmad Yani menyampaikan bahwa pendidikan di Bombana tak boleh sekadar mengejar angka dan indikator formal, tetapi harus menyentuh jantung persoalan: bagaimana menciptakan ruang belajar yang adil, relevan, dan mampu menyelamatkan masa depan generasi muda dari krisis lingkungan dan krisis identitas.
โKearifan lokal bukan masa lalu yang ditinggalkan. Ia adalah fondasi masa depan. Kita butuh pendidikan yang tidak hanya memproduksi tenaga kerja, tapi melahirkan manusia berkarakter, peduli alam, dan cinta budaya,โ tegasnya dengan nada penuh penekanan.
Seminar ini menghadirkan jajaran pimpinan OPD, Forkopimda, para kepala sekolah, guru, siswa SMP dan SMA, serta tokoh masyarakat. Keterlibatan lintas kelompok ini menandai kesadaran bersama bahwa transformasi pendidikan adalah kerja kolektif, bukan semata tanggung jawab sekolah.
Dalam sesi diskusi, berbagai isu strategis mengemuka mulai dari tantangan pendidikan di daerah terpencil, minimnya kurikulum kontekstual berbasis budaya, hingga urgensi menciptakan sekolah yang ramah bagi semua, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus dan komunitas adat.
Para pembicara menyoroti bahwa sistem pendidikan nasional selama ini cenderung bersifat seragam dan kurang mengakomodasi keberagaman lokal. Suku Moronene, sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas Bombana, justru memiliki segudang nilai yang dapat menjadi referensi dalam menyusun kurikulum yang membumi dan berdampak jangka panjang.
Seminar ini pun menjadi titik balik. Bukan hanya forum seremonial, melainkan momentum penyadaran bahwa masa depan pendidikan Bombana harus dibangun dari akar, bukan dari atas.
Di akhir acara, Ahmad Yani menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Bombana untuk merumuskan kebijakan pendidikan yang inklusif, ekologis, dan berbasis nilai budaya lokal. Sebuah langkah strategis yang menempatkan Bombana bukan hanya sebagai wilayah administratif, tetapi sebagai pusat kebangkitan pendidikan berbasis kearifan.
Pen/Editor:Andi Syam
Media ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ผ๐ฏ๐ผ๐๐ป๐๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ.๐๐ผ๐บ
