Terobosnusantara.com-Bombana Koordinator Wilayah Media Terobosnusantara Andi Syam mengungkapkan bahwa anggaran pelantikan, penjemputan dan penyambutan bupati bukan arahan bupati Ir. H.Burhanuddin,M.Si, namun jauh sebelumnya sudah di agendakan dalam Musrembang Tahun 2024 yang di gagas oleh beberapa pejabat penting dimasa transisi
” Saya menduga anggaran pelantikan, penjemputan dan penyambutan bupati sengaja di prioritaskan dengan jumlah yang cukup pantastis karena mungkin mereka berpikir calon bupati si A yang akan menang sehingga semuanya diatur sedemikian rupa, padahal ubur-ubur ikan lele lain di bakar lain pula yang meleleh,” jelasnya.
Ironisnya, banyak pihak yang mengklaim berita yang di terbitkan media Terobosnusantara.Com pekan lalu, memberi tanggapan berbagai ujaran kebencian begitupun berita sanggahan menyangka hal itu fitnah alyas berita bohong tak berdasar, bahkan ada yang mau melaporkan kepihak yang berwajib, berbagai cacian dari wartawan senior turut memberikan tanggapan negatif tanpa konfirmasi kepada si pembuat berita tersebut.
“Seharusnya sebagai jurnalis yang senior sangat tidak etis bila langsung mencaci dan menghina sesama wartawan saat membaca sebuah berita, baiknya di konfirmasi dulu kepada si pembuat berita mengenai berita yang ditulisnya, apakah dasar dan sumbernya jelas atau tidak, setelah itu baru membuat berita sanggahan, tapi ini aneh maki- maki dan menghina, hemm tapi yaa sabar ajha karena memang saya bodoh,” katanya
Lebih lanjut ia menyesalkan pernyataan Plh Sekda kabupaten Bombana, dr .H.Sunandar, M.Kes, menuding pernyataan si penulis asal bicara dan mengatakan dana Rp 800.000.000.00 (Delapan ratus juta rupiah) adalah uang pribadi Ir.H.Burhanuddin,M.Si.
“Seharusnya seorang pejabat publik yang sudah puluhan tahun di dunia pemerintahan tidak begitu bahasanya harus ramah dan bijak saat berbicara, kalau salah yaa menegur dan menasehati, tapi ini justru menjastifikasi, apa benar ini dana pribadi ? Sementara DPA nya jelas, begitupun TU nya apabila nanti di temukan bukti valid bukan dana pribadi gimana ?,” pungkasnya
Di kalangan masyarakat, muncul berbagai respons terhadap fenomena ini. Ada yang menganggap pelantikan bupati memang seharusnya diselenggarakan dengan meriah, sebagai simbol peralihan kepemimpinan yang sah. Namun, tidak sedikit yang merasa bahwa anggaran tersebut baiknya di kurangi, selebihnya digunakan untuk program-program yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
Fenomena anggaran pelantikan, penjemputan, dan penyambutan bupati yang jumlahnya cukup besar memang bukan hal baru. Namun, dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya transparansi, harapannya penggunaan dana publik bisa lebih efektif dan efisien.
Ungkapan “ubur-ubur ikan lele, lain di bakar lain meleleh” mungkin menjadi cerminan realitas saat ini di mana ekspektasi masyarakat terhadap pemerintahan yang bersih dan transparan sering kali tidak sesuai dengan kenyataan namun hal ini mutlak sebuah keberuntungan untuk pasangan BUR-YANI, sebab anggaran ini sudah di porsikan untuk seorang pemenang dalam konteks Pilkada tahun lalu dan BUR-YANI lah pemenangnya.
Kini, bola ada di tangan kepemimpinan Bur-Yani. Akankah mereka berdua menjadikan pelantikan ini sebagai ajang pamer kemewahan, atau justru memanfaatkannya sebagai momentum untuk menunjukkan komitmen pada transparansi dan kepentingan rakyat? Waktu yang akan menjawab.
𝗣𝗲𝗻/𝗘𝗱𝗶𝘁𝗼𝗿:𝗔𝗻𝗱𝗶 𝗦𝘆𝗮𝗺/𝗥𝗲𝗱
