๐ง๐ฒ๐ฟ๐ผ๐ฏ๐ผ๐๐ป๐๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ.๐๐ผ๐บ-๐๐ผ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ฎ. Andi Syam. Koordinator wilayah media Terobosnusantara memprediksi bahwa Indonesia hanya tinggal menunggu waktu untuk pecah dan menjadi negara-negara dengan otonomi penuh. Fenomena ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil dari akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah pusat yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah pusat semakin terlihat nyata, seiring dengan kebijakan-kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat, maraknya praktik korupsi yang terus merajalela, serta ketidakmampuan pemerintah dalam menyelesaikan berbagai konflik sosial, ekonomi, dan politik di berbagai daerah.
Ketimpangan pembangunan yang mencolok antara pusat dan daerah semakin memperdalam jurang perpecahan, membuat daerah-daerah yang selama ini merasa dianaktirikan mulai berpikir untuk mengambil jalannya sendiri.
Gerakan-gerakan separatis yang dulunya hanya dianggap sebagai kelompok kecil kini semakin mendapatkan simpati dari masyarakat luas. Hal ini diperparah dengan ketidakmampuan pemerintah pusat dalam mengelola keberagaman serta menegakkan keadilan secara merata. Jika situasi ini terus dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan Indonesia akan mengalami nasib yang sama seperti Uni Soviet atau Yugoslavia, di mana negara-negara bagian akhirnya memilih untuk berdiri sendiri.
Andi Syam dalam paparannya, memperingatkan hal ini sejak puluhan tahun lalu, dan kini tanda-tanda kehancuran itu semakin jelas. Indonesia, yang dulu dibangun atas semangat persatuan dan kebangsaan, kini semakin rapuh akibat ketidakmampuan pemerintah dalam menjaga kepercayaan rakyatnya sendiri. Jika tidak ada perubahan drastis dalam sistem pemerintahan dan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada seluruh rakyat, maka disintegrasi bangsa hanya tinggal menunggu waktu.
” Saya secara pribadi telah lama memprediksi hal ini sejak Orde Baru Tumbang gelagat pemimpin mulai terasa, partai politik mulai bermunculan bahkan menjamur, Perwakilan yang kami utus mewakili suara kami tidak bisa berbuat lebih banyak di daerahnya sendiri karena terdoktrin oleh tekanan pimpinan partai pusat, di samping itu mereka juga tidak bisa bekerja maksimal memperjuangkan aspirasi rakyat di dapilnya sendiri karena biaya untuk duduk di kursi legislatif tidak murah hingga mayoritas dewan perwakilan yang mereka pilih memperjuangkan nasibnya sendiri,” jelas Andi Syam Koordinator Wilayah media Terobosnusantara.(21/3/25)
Lebih lanjut dirinya mengatakan. Lihatlah Papua, Maluku, Aceh, dan berbagai daerah lainnya yang sejak dulu telah berjuang untuk memisahkan diri dari pemerintah pusat. Mereka merasa bahwa tetap menjadi bagian dari pusat hanyalah sebuah kerugian besar. Sumber daya alam mereka dikeruk habis-habisan, pajak daerah yang seharusnya kembali untuk pembangunan wilayah malah dijadikan bancakan oleh elit politik di pusat, dan Dana Bagi Hasil (DBH) yang seharusnya menjadi hak rakyat justru berakhir di kantong para pejabat korup.
“Seharusnya Sulawesi Tenggara ini sudah gemerlap jadi kota metropolitan dan masyararakat di setiap kabupaten Sulawesi Tenggara tidak ada yang mengeluh dan hidupnya tidak sengsara, mengingat sumber daya alamnya serba memadai termasuk tambang nikelnya, tambang emas, pertanian dan lainnya, tapi kok faktanya masih banyak yang menderita ujungnya mencuri dan berakhir di jeruji besi,” jelasnya
Selama bertahun-tahun, suara perlawanan itu terus berusaha dibungkam dengan berbagai cara, namun ketidakadilan yang mereka rasakan tak pernah benar-benar hilang. Kini, di tengah krisis kepercayaan yang semakin dalam terhadap pemerintah pusat, dengan memangkas anggaran kedaerah daerah merupakan awal dari pergerakan itu mulai bangkit kembali. Semangat perjuangan untuk menentukan nasib sendiri kembali menyala, diperkuat oleh fakta bahwa janji-janji pembangunan dan kesejahteraan yang diberikan selama ini tak lebih dari omong kosong belaka.
Masyarakat di daerah-daerah kini semakin sadar bahwa mereka selama ini hanya dijadikan sapi perah, sementara kesejahteraan mereka diabaikan. Infrastruktur yang dijanjikan tak kunjung merata, hak-hak dasar seperti pendidikan dan kesehatan jauh tertinggal dibandingkan wilayah lain, sementara para pejabat pusat terus hidup dalam kemewahan. Ketidakpuasan yang terus terpendam ini akhirnya mulai menemukan momentumnya kembali, dan jika pemerintah tetap gagal memberikan solusi nyata, bukan tidak mungkin gelombang perlawanan yang lebih besar akan muncul dan mengancam keutuhan negara.
“Saya masih teringat ucapan bapakย Prabowo Subianto dimasa kampanye dan debat calon presiden, dia sendiri mengatakan, jika negeri ini tidak dipimpin oleh pemimpin yang adil maka indonesia ini akan bubar paling lama 2030 itu kata beliau,” jelas Andi Syam
Inilah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Saat rakyat semakin sadar akan ketidakadilan yang mereka alami, mereka akan mencari jalan keluar yang menurut mereka paling adil melepaskan diri dari cengkeraman pemerintah pusat yang selama ini hanya membawa mereka pada penderitaan dan kemiskinan.
๐ฃ๐ฒ๐ป๐๐น๐ถ๐ :๐๐ป๐ฑ๐ถ ๐ฆ๐๐ฎ๐บ
Langsung ke konten
