NEWS  

Wacana Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih Perlu Kajian Mendalam, Ini Kata Kades Watumalomba

๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ผ๐—ฏ๐—ผ๐˜€๐—ป๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ.๐—–๐—ผ๐—บ-๐—•๐—ผ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ Koperasi Desa Merah Putih merupakan inisiatif dari Presiden Prabowo Subianto. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui penguatan ekonomi lokal. Presiden Prabowo Subianto targetkan rancangan kisaran 70.000 lebih, Koperasi Desa Merah Putih di seluruh Indonesia yang akan dibentuk dengan pagu anggaran 1.Miliar perdesa.

Kepala desa Watumalomba Kecamatan Tontonunu Kabupaten Bombana, Kisman,A,Ma, NL,P, mengatakan jika Koperasi Desa Merah Putih dibentuk semestinya pagu anggaran 1 miliar harus transparan dan akuntabel tapi ironisnya sering terjadi dana yang sampai di daerah tidak sebesar pagu anggaran yang di sampaikan jajaran kementrian terkait, menurutnya dana yang sampai di daerah hanya berkisar 800 san bahkan ada 600 juta. Dari peristiwa tersebut sudah bisa di pastikan bahwa dana desa 70 persen telah di poskan oleh pusat,” Jika Koperasi Desa Merah Putih dibentuk, dipastikan anggaran infrastruktur untuk pembangunan desa akan habis sementara mayoritas masyarakat sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur,
oleh sebab itu saya katakan, perlu ada kajian mendalam karna tidak semua daerah di indonesi sama kebutuhannya,” ungkap Kisman

Wacana pembentukan Koperasi Desa Merah Putih terus menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Usulan ini muncul sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan warga melalui pengelolaan ekonomi berbasis gotong royong. Namun, kepala desa Watumalomba, Kisman,A,Ma,.NL,P ,menegaskan bahwa rencana tersebut perlu kajian mendalam sebelum direalisasikan.

Kisman, menjelaskan bahwa koperasi bisa menjadi solusi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, terutama dalam sektor pertanian dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, ia juga mengingatkan bahwa tanpa perencanaan yang matang, koperasi justru bisa menjadi beban bagi anggotanya.

“Koperasi pada dasarnya adalah lembaga yang mengutamakan kebersamaan dan kesejahteraan anggota. Namun, pengalaman di beberapa daerahย menunjukkan, bahwa tanpa manajemen yang baik, koperasi bisa gagal. Oleh karena itu, kami ingin memastikan bahwa semua aspek, baik kelembagaan, keuangan, hingga sumber daya manusia, benar-benar siap,” ujar Kisman saat ditemui di Kantor Desa Watumalomba, Senin (9/3/25).

Kisman menjelaskan bahwa ada beberapa faktor utama yang perlu dikaji sebelum koperasi ini dibentuk. Pertama, kesiapan modal dan sumber daya finansial yang akan menjadi penopang utama koperasi. Ia menegaskan bahwa koperasi harus memiliki sumber pendanaan yang jelas agar bisa berjalan secara berkelanjutan.

“Kita harus tahu dari mana modal awal koperasi ini. Apakah dari iuran anggota, bantuan pemerintah, atau pihak ketiga Jangan sampai koperasi berjalan tanpa modal yang memadai, karena itu bisa berakibat pada kegagalan operasional,” tambahnya.

Kedua, kesiapan anggota dalam menjalankan koperasi. Menurutnya, koperasi hanya akan sukses jika anggotanya memahami konsep dan tujuan koperasi serta memiliki komitmen untuk menjalankannya.

“Banyak koperasi yang gagal karena anggotanya kurang paham bagaimana mengelola usaha bersama. Ini yang harus kita antisipasi sejak awal dan akan memerlukan kerja keras dan bisa berujung Bumdes akan terbengkalai,” ujar Kisman.

Ketiga, aspek hukum dan administrasi. Koperasi harus memiliki legalitas yang jelas dan mengikuti regulasi yang berlaku agar bisa beroperasi dengan baik serta mendapatkan dukungan dari pemerintah dan lembaga terkait.

Wacana pembentukan Koperasi Desa Merah Putih ini mendapat beragam tanggapan dari seluruh desa di Indonesia . Sebagian besar menyambut baik inisiatif ini karena diyakini dapat meningkatkan perekonomian desa. Namun, ada juga yang khawatir koperasi ini akan mengalami kendala dalam pengelolaan, seperti yang terjadi pada koperasi-koperasi sebelumnya.

Sementara itu, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Watumalomba, Alimuddin juga menekankan pentingnya edukasi dan pelatihan bagi calon anggota koperasi.

“Sebelum koperasi ini benar-benar dibentuk, kami berharap ada pelatihan bagi masyarakat agar mereka memahami bagaimana koperasi bekerja. Ini penting agar koperasi bisa berjalan dengan baik dan tidak sekadar menjadi proyek yang berhenti di tengah jalan,” kata Alimuddin

Menanggapi berbagai masukan, Kepala Desa Watumalomba menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan kajian lebih lanjut dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk dinas koperasi dan UMKM setempat, akademisi, serta tokoh masyarakat.

“Kita akan mengadakan diskusi dan musyawarah lebih lanjut. Jika semua aspek sudah siap, baru kita akan mulai proses pembentukan koperasi itupun kalau hal ini direalsasikan,” jelasnya.

Ia juga berharap kepada seluruh masyarakat kabupaten Bombana jika regulasinya keluar akan mengajak masyarakat Bombana untuk aktif berpartisipasi dalam proses ini, baik dengan memberikan masukan maupun ikut serta dalam tahapan persiapan koperasi

“Kami berharap jika koperasi ini benar-benar di realisasikan menjadi program Pak Presiden diharapkan membawa manfaat bagi seluruh warga Watumalomba,” tutupnya.

Dengan kajian yang matang dan dukungan penuh dari masyarakat, diharapkan Koperasi Desa Merah Putih dapat menjadi salah satu motor penggerak ekonomi desa yang berkelanjutan dan mampu meningkatkan kesejahteraan warga Watumalomba.

๐—ฃ๐—ฒ๐—ป/๐—˜๐—ฑ๐—ถ๐˜๐—ผ๐—ฟ:๐—”๐—ป๐—ฑ๐—ถ ๐—ฆ๐˜†๐—ฎ๐—บ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *