TEROBOSNUSANTARA.COM-Politeknik Bombana mengalami krisis analisis menjelang masa transisi kepemimpinan bupati defenetif yang sebentar lagi akan menorehkan sejarah baru di Bombana berkenaan lahirnya pemimpin pilihan mayoritas cukup melegenda visioner penuh dedikasi. Namun di balik suka cita yang dinantikan justru kampus Politeknik Bombana kebanggaan masyarakat dan mahasiswa kondisinya kini semakin terpuruk.
Di tengah dinamika politik yang terjadi saat ini kampus Polina mengalami prahara cukup serius, mulai dari gaji dosen dan tenaga kependidikan (tendik) belum terbayarkan sehingga pengelolaan cardi tengah ut-marut, Yayasan yang menaungi Politeknik Bombana diandalkan sejak dulu kini justru memilih diam bahkan menutup mata dan telinga terhadap kondisi yang semakin memprihatinkan. Hal ini di ungkap salah seorang mahasiswa Politeknik pada Selasa 04 Februari 2025_
Ketidak pedulian pihak yayasan terhadap masalah ini memicu kekecewaan mendalam di kalangan dosen, staf, mahasiswa, dan masyarakat. Mereka menilai tanpa adanya tindakan nyata dari pihak yayasan maka lembaga pendidikan politeknik akan semakin terpuruk dan gagal menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan vokasi yang berkualitas.
Salah satu persoalan paling krusial gaji dosen, staf, dan tendik hingga kini belum terbayarkan. Akibatnya, banyak tenaga pengajar kehilangan motivasi, bahkan mempertimbangkan untuk meninggalkan kampus demi mencari pekerjaan yang mampu menjamin kehidupan mereka.
“Kami sudah bertahan selama berbulan-bulan tanpa kepastian. Hingga kini, tidak ada solusi diberikan oleh pihak yayasan, bukan hanya soal gaji, tapi keberlanjutan pendidikan di Bombana,” ujar salah satu staf pengelola yang enggan disebutkan namanya.
Selain gaji tertunggak, sistem pengelolaan dalam kampus juga dinilai semakin rusak. Kurangnya kebijakan yang jelas, jadwal perkuliahan sering berubah, sehingga minimnya fasilitas yang tersedia menjadi bukti nyata bahwa Politeknik Bombana sedang mengalami krisis serius.
Bukan hanya itu mahasiswa pun merasa dirugikan karena tidak mendapatkan kualitas pendidikan yang seharusnya mereka terima. “Kami hanya ingin belajar dengan baik, tetapi situasi kampus semakin kacau. Jika tidak segera diperbaiki, kami takut politeknik tidak akan berkembang,” ujar salah satu mahasiswa.
Sebagian mahasiswa dan staf tendik menuntut agar pembina yayasan segera mengambil langkah tegas. Sebagai pihak yang harus memastikan yayasan berjalan sesuai dengan tujuannya, mereka harus bertindak tegas bukan justru diam berpangku tangan melihat kondisi Politeknik Bombana kian hari semakin memburuk
Selain itu, pengawas yayasan juga didesak untuk segera turun tangan. Jika pihak yayasan tidak mampu lagi mengelola Politeknik Bombana, maka sudah saatnya dilakukan langkah strategis untuk menyelamatkan kampus ini. Sebagai solusi jangka panjang, Politeknik Bombana harus dialihkan ke Yayasan Pendidikan Tinggi Politeknik Bombana sebaiknya langsung di bawah naungan Pemerintah daerah (Pemda). Agar pengelolaan lebih transparan dan anggaran lebih terjamin, diharapkan kampus politeknik dapat berkembang dan memberikan pendidikan yang layak bagi generasi masa datang.
“Jika dikelola oleh Pemda, politeknik ini berpotensi menjadi pusat pendidikan vokasi unggulan yang dapat bersaing dengan perguruan tinggi lainnya di Sulawesi Tenggara. Selain itu, kesejahteraan tenaga pendidik akan lebih terjamin, dan mahasiswa pun akan mendapatkan fasilitas serta pengajaran sesuai dengan standar pendidikan tinggi,” ungkap seorang tendik saat di temui.
Mahasiswa, tendik, staf maupun dosen tidak ingin Politeknik Bombana dibiarkan mati perlahan. Mereka menuntut langkah nyata dari pembina yayasan begitupun pengawas yayasan untuk segera menyelesaikan permasalahan yang ada saat ini. Jika tidak, sebaiknya dialihkan ke Pemda menjadi opsi terbaik demi masa depan pendidikan tinggi vokasi di kabupaten Bombana.
Kini mahasiswa dan staf tendik serta dosen Politeknik kabupaten Bombana berharap bupati defenetif kedepan akan memikirkan dan mengambil langkah strategis demi masa depan generasi yang akan datang. Bola panas ada di tangan para pemangku kepentingan. Apakah mereka akan tetap diam, atau mengambil langkah tegas untuk menyelamatkan Politeknik Bombana? Waktu yang akan menjawab.
𝗔𝗻𝗱𝗶 𝗦𝘆𝗮𝗺/𝗥𝗲𝗱.
